Saat aku sudah menjadi aku yang baru atau aku menjadi aku yang
dulu sebelum mengenalmu. Apa aku harus peduli dengan bahagiamu ?
Kukecup kesunyian malam, membekukan hati dalam rindu. Ah itu
dulu. Sekarang sudah terlepas dari rasa pedihnya merindukanmu. Kadang terlintas
pertanyaan dalam benakku. Kata orang cinta itu indah. Cinta itu membuat
bahagia. Tapi kenapa saat aku mencintaimu begitu sakit dan pedih ya rasanya ?
apa kau bisa menjawab pertanyaan sederhanaku ini ?
Ribuan tetes air mata telah menghapus jejak kisah yang pernah
kita torehkan, bahkan waktu mengambil bagian dalam mengubah kita menjadi orang asing dan mengubah kita menjadi sebuah
kenangan yang harus disimpan rapat-rapat. Oh aku hampir lupa jika tak ada lagi
kita, yang ada aku dan kau. Sendiri-sendiri.
Aku pernah merasakan sangat kau cintai. Tapi apa artinya di
cintai, disayangi, dikhawatirkan kebahagiaan juga keadaannya tanpa pernah kau
berusaha untuk mempertahankanku. Semua akan seperti debu yang tertiup angin,
hilang.
Semua tetesan air mata ini aku simpan bersama album kenangan
kita, yang mulai usang, karena hanya aku yang sering membukanya. Saat ini aku
sudah bosan membukanya, lalu aku memutuskan untuk menyimpannya disalah satu
tempat dihatiku. Dan ku harap tak akan pernah terbuka lagi atau membukanya lagi.
Bahagia.
Mungkin kau sedang berbahagia dengan wanitamu.
Mungkin kau sedang bercumbu mesrah dengan wanitamu saat aku
bersujud dan merangkuhmu dalam doa.
Atau malah sebaliknya ? kau tak merasakan sebuah kebahagiaan ?
Kau pikir dengan kau tak bahagia aku akan peduli ? oh tidak.
Dulu mungkin aku masih peduli. Untuk apa aku mengkhawatirkan kebahagiaanmu, kau
saja tak pernah mengkhawatirkan kebahagiaanku.
Bahagiaku saja perlu proses. Tapi kau tak perlu tau proses
yang aku lewati untuk mendapatkan bahagiaku cukup kau lihat bahagia seperti apa
yang t’lah aku dapatkan, dan aku pantas mendapatkannya. Ah aku bukan mau balas
dendam padamu. Aku hanya ingin kau melihat, wanita yang pernah kau tinggalkan
dan kau sia-siakan ini sudah berbahagia.
Tangis
yang dulu aku pendam diam-diam kala malam dengan dingin merengkuhku sudah
tiada, dia terbawa oleh embun yang disambut sang surya. Kau ingat. Saat aku
merangkak-rangkak mencari bahagiaku, kau tertawa dan menikmati bahagiamu dengan
wanita itu. Jadi saat kau tak bahagia apa aku harus peduli ? tentu jawabannya
TIDAK.
0 komentar:
Posting Komentar