Tentang sepasang mata yang sukar aku eja
Tantang sosok yang begitu mencintai malam
Tentang nafas yang begitu hangat saat ciuman mendarat dikening
Tentang aroma tubuh yang masih pekat diingatan
Tentang genggaman-genggaman tangan yang pernah mampir lalu beranjak lagi
Tentang kamu, ya kamu yang bernamakan kenangan
Tantang sosok yang begitu mencintai malam
Tentang nafas yang begitu hangat saat ciuman mendarat dikening
Tentang aroma tubuh yang masih pekat diingatan
Tentang genggaman-genggaman tangan yang pernah mampir lalu beranjak lagi
Tentang kamu, ya kamu yang bernamakan kenangan
12 january 2014 tepatnya hari minggu, hari terakhir kita bertemu. Sekarang aku sedang menikmati hari yang sama, tapi dengan suasana yang berbeda. Lagu ‘melangkah’ dari Raisa menemaniku duduk disudut kamar dengan sebatang rokok. Kunikmati setiap bait dan senja dengan jingganya yang mulai malu-malu pulang keperaduan.
Hari ini berbeda tak ada kamu disini. Bayang-bayang semumu
yang menemaniku minggu ini dan seterusnya. Tak akan terdengar lagi canda
tawamu, senyuman dengan mata tajam saat menatapku. Lagi lagi aku menikmati sore
ditemani sepi dan bayangan semumu.
Aku sendiri, ya hanya sendiri. Minggu lalu ada kamu yang
menemani, tepat disampingku saat ini. Kita tertawa bersama, menikmati gemuruh
hujan yang tak mau berhenti membasahi bumi. Cuaca hari ini berbeda sayang
dengan saat kamu benar-benar ada disini, hari ini begitu panas tak ada hujan
menyapa.
Masih pekat dalam ingatanku tatapan dengan mata indahmu yang
tak pernah mampu aku tatap, dari dulu sampai saat terakhir kita bertemu. Aku bukan
takut menatap matamu tapi aku tak mampu. Tak mampu menahan rasa perih jika ada
bayang wanita itu dibelakang wajahku. Bayangan wanita dengan perut mulai
membuncit.
Sayang, aku abadikan sedikit tentangmu dalam goresan ini agar
kau tetap abadi tak terhapus oleh waktu. Tapi jangan kau kira aku berharap kau
kembali, tidak. Aku hanya tak ingin kau hilang bersama waktu dan ingatanku
tentangmu. Kau telah menjadi seseorang yang mampu membuat hariku memiliki pelangi
sendiri, setiap warna yang kau ciptakan aku simpan dalam ingatan.
Sekarang kamu sedang menikmati menunggu senja menghilang
digantikan oleh sang rembulan dengan wanita itu. Aku tak cemburu, karena aku
pernah melewati itu denganmu, bahkan lebih indah dari yang kau lewati sekarang.
Kita penuh canda, tawa dan kita saling menatap penuh cinta. Kamu tak akan
pernah melewati itu semua dengan dia.
Aku merasa kau sedang berada disampingku saat ini,
memperhatikan setiap kata yang aku ciptakan tentangmu. Aroma tubuhmu masih
melekat dalam ingatanku, nafas hangatmu juga tak mau kalah. Seakan Kau memelukku
dengan erat dan hangat. Pelukanmu itu seperti kopi yang ku minum pagi tadi, begitu
hangat. Ciumanmu seperti kafein yang memabukkan tapi menenangkanku.
Sayang, mungkin aku tak pernah ada di ingatanmu untuk saat ini,
tapi aku yakin kelak pada suatu pagi kamu akan mengingat tentangku lebih pekat,
bayangku dan kenangan kita akan mengaduk pikiranmu berkali-kali. Jika saat itu
tiba, ingatanku tantangmu sudah memudar bersama air mata yang kutumpahkan saat
malam-malam aku mengenangmu dulu.
Kamu sudah aku abadikan dalam goresan ini. Kamu akan menjadi
sebuah cerita. Bukan hanya itu, tetapi kamu pernah menjadi pena dalam kanvas
hidupku dan aku mensyukurinya :D
Aku meyakini, jika kelak aku dan kamu akan bertemu lagi. Jika
kau tanya kapan ? entahlah aku pun tak tau. Tapi saat hari itu tiba, aku sudah
menamukan kebahagiaan setelah ikhlas melepaskanmu. Good bye sayang.

0 komentar:
Posting Komentar